Cerita Geometry
Kala itu aku sedang sibuk mengurus kepanitiaanku di kegiatan
study tour mata kuliah Ilmu sosial budaya dasar (ISBD), tiba-tiba seorang
senior memanggilku.
“dek, bisa minta tolong? Buatkan soal untuk geometry tingkat
SMA” tutur senior tersebut.
Sejenak aku terdiam. Lalu dengan nada pelan kutanya ia “
kapan harus kuserahkan kanda?”. “kalau bisa secepatnya” tuturnya.
“Aku dan teman-teman akan berangkat ke tator selama tiga
hari, jadi saya baru bisa membuatnya setelah dari tator” jelasku. “oh, iya
tidak apa-apa dinda” jawabnya.
Kisah di tanah toraja begitu berkesan bagiku, hingga
mengingatkanku pada kisah “petualang malam” (baca di entri lainnya). Setelah
dari tator segera kutemui senior tersebut untuk meminta referensi atau bentuk
soal yang akan aku buat. Sempat membuatku kaget ketika ia menyuruhku membuat
soal final tingkat SMA sederajat untuk acara GEOMETRY. Rasanya ingin menolak
tapi kupikir itu akan memberiku pelajaran baru. Kutegaskan pada kakanda
tersebut bahwa saya hanya sekedar membuat soal dan penyelesaiannya. Selebihnya
kuserahkan pada kakanda untuk mengecek dan memilah kembali soal-soal tersebut. Aku
diberi batas waktu tiga hari untuk membuat soal yang kuantitasnya sekitar 40-an.
Awalnya kupikir akan cukup mudah, toh ada banyak file soal yang aku miliki.
Pikir demi pikir, soal ini tak boleh sekedar copy faste dari soal yang
kumiliki, aku harus membuat soal yang bukan sekedar kuantitas sama melainkan
juga memiliki kualitas yang sama. Saya tak ingin main-main dalam membuat soal terlebih
ini untuk kegiatan GEOMETRY yang merupakan suatu event lomba se-Sulselbar. Tak
cukup sampai disitu, soal tersebut juga harus dibuat “gampang-gampang susah”
artinya mudah dijawab tapi memungkinkan penjawab salah jikalau kurang teliti
atau kurang fokus.
Membuat soal ternyata tidak mudah bahkan bisa lebih sulit
daripada menjawab soal itu sendiri.
Tiga hari berlalu, aku harus menyetor soal yang telah aku
buat. Oleh karena kakanda tidak hadir, maka aku memiliki kesempatan untuk
memperbaiki dan kembali menyetornya di hari esoknya.
“tuntas sudah tugasku” pikirku kala itu. beberapa hari
berlalu, aku mendapat panggilan dari kakanda untuk menghadiri rapat evaluasi
bersama ayahanda dosen. Aku terkejut, kupikir aku sudah lepas tanggung jawab. “Tapi
tak apalah, cuma sekadar duduk mendengarkan celotehan ayahanda dosen”, pikirku.
Namun ternyata, lebih dari itu. Saat itulah aku mendapatkan banyak ilmu yang
begitu berbeda. Ayahanda dosen tidak mengajariku seperti saat diruang kelas, Tapi ilmu yang disampaikannya terkadang tersirat namun dapat kupahami dengan
baik.
Aku kagum dengan dosen-dosenku di jurusan Matematika. Mereka
sangat menginspirasi dan memotivasiku untuk terus berkembang. Bukan hanya
ucapannya, melainkan juga sikap dan tindakan mereka bisa menjadi pelajaran
bagiku. Begitulah aku belajar. Mengamati setiap tindakan, gerak-gerik, dan
segala hal yang ada pada orang yang aku kagumi dan menginspirasi. Tak jarang
kuamati kekurangannya dan melihat bagaimana ia memanfaatkan kekurangannya
menjadi kekuatan yang besar. Tapi aku tak fokus pada kekurangannya, aku lebih
melihat bagaimana ia memanfaatkan setiap detiknya sehingga bisa dikagumi
olehku.
Geometry begitu singkat. tapi banyak ilmu yang aku peroleh.
baik dari ayahanda, senior di Himatika Maupun dari teman-teman yang telah
bekerja demi men-sukses-kan kegiatan Geometry.
Geometry : 28-31 Januari
2013.
yusran : memoriam
Komentar
Posting Komentar